Pettanko.net – Produsen mobil raksasa Jepang, Toyota, memutuskan untuk menunda rencana pentingnya, yaitu pembangunan pabrik baterai mobil listrik kedua di Prefektur Fukuoka, Jepang barat daya. Penundaan ini diperkirakan berlangsung selama satu tahun tambahan untuk mengevaluasi dan menyesuaikan proyek. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap melambatnya permintaan global untuk kendaraan listrik (EV) di berbagai pasar utama.
Keputusan penundaan ini dikonfirmasi oleh Gubernur Fukuoka, Seitaro Hattori, setelah bertemu dengan Presiden Toyota, Koji Sato. Hattori menjelaskan bahwa proyek tersebut tidak dibatalkan, namun tanggal mulai produksi, yang semula ditargetkan pada tahun 2028, akan didorong mundur. Bahkan, sebagian dari kapasitas pabrik tersebut dapat dialihkan untuk produksi kendaraan atau komponen lain. Toyota sendiri telah membeli lahan senilai sekitar 6 miliar yen (sekitar $39 juta) di kawasan industri tersebut pada Februari 2025 dengan syarat konstruksi dimulai dalam waktu tiga tahun, dan Toyota berkomitmen untuk tetap mematuhi kondisi tersebut.
Daftar Isi
Target dan Proyeksi Penjualan EV Toyota Direvisi
Penundaan ini mencerminkan kondisi umum di pasar global: segmen mobil listrik Toyota juga menghadapi penurunan penjualan dan profitabilitas di banyak pasar. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Toyota merevisi proyeksi penjualan EV global untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026 (termasuk merek Lexus) menjadi 277.000 unit, angka ini 10% lebih rendah dari perkiraan semula pada bulan Agustus. Presiden Koji Sato bahkan mengisyaratkan kemungkinan revisi terhadap target ambisius Toyota, yaitu menjual 1,5 juta unit EV global pada tahun 2026, di tengah melemahnya daya beli di pasar besar seperti AS, Eropa, dan Jepang.
Toyota Mempercepat Investasi di China
Di tengah perlambatan yang terjadi di pasar Barat, Toyota justru bergerak cepat memperkuat investasinya di China, di mana persaingan dengan produsen lokal sangat ketat. Pada Maret 2025, Toyota meluncurkan model EV berbiaya rendah, Toyota bZ3X, khusus untuk pasar Tiongkok guna memperluas basis pelanggannya. Strategi ini membuahkan hasil, di mana penjualan Toyota di China meningkat dari 860.000 kendaraan pada paruh pertama tahun fiskal 2024 menjadi 910.000 kendaraan pada periode yang sama tahun ini. Perusahaan ini tengah mengejar strategi EV yang disesuaikan untuk setiap wilayah, termasuk rencana pabrik Lexus di Shanghai yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2027.
Produsen Jepang Lain Turut Menunda
Penyesuaian rencana produksi EV dan baterai tidak hanya dilakukan oleh Toyota. Produsen Jepang lainnya juga mengambil langkah serupa. Pada Mei 2025, Nissan membatalkan proyek pabrik baterai EV di Fukuoka, memutuskan untuk fokus pada strategi pertumbuhan dengan biaya investasi yang lebih efisien. Honda pun menunda pembukaan fasilitas EV dan baterai di Kanada selama sekitar dua tahun karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan.
Situasi ini diperparah dengan berakhirnya kebijakan subsidi pajak untuk kendaraan listrik di AS pada akhir September 2025, yang menyebabkan permintaan global anjlok. Di saat yang sama, kelebihan pasokan di pasar menyebabkan harga baterai EV jatuh. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pabrik baterai baru mungkin tidak dapat mencapai tingkat keuntungan yang diharapkan. Keputusan Toyota untuk menunda pembangunan pabrik baterai EV menunjukkan kehati-hatian industri otomotif Jepang dalam menghadapi momentum kendaraan listrik yang melambat. Perusahaan dipaksa untuk menyesuaikan strategi investasi, memprioritaskan fleksibilitas, dan memperluas jangkauan produk hibrida sebagai adaptasi terhadap fase pasar baru.






