Harga Bitcoin (BTC) kembali di bawah tekanan, jatuh di bawah level psikologis $100.000 dan menembus area support di sekitar $96.000. Pelemahan ini terjadi ironisnya setelah pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali beroperasi penuh setelah shutdown terpanjang dalam sejarah AS.
Penandatanganan rancangan anggaran oleh Presiden Donald Trump pada Rabu (13/11/2025) seharusnya membawa sentimen positif karena kembalinya operasional regulator utama seperti Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Namun, alih-alih pulih, harga Bitcoin justru melanjutkan tren pelemahan.
Daftar Isi
Penyebab Utama Tekanan Harga Pasca Shutdown
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyebut pergerakan harga Bitcoin saat ini berada pada fase konsolidasi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global. Ada beberapa faktor utama yang menekan harga:
1. Keterlambatan Data Ekonomi AS: Shutdown pemerintah AS menyebabkan penundaan rilis sejumlah indikator ekonomi penting, seperti Indeks Harga Konsumen (IHK) dan laporan pekerjaan non-farm payrolls untuk Oktober 2025. Keterlambatan ini membuat pelaku pasar kekurangan acuan fundamental untuk menilai arah kebijakan moneter AS ke depan. Pasar pun kembali mengacu pada data inflasi terakhir September 2025 (3 persen), yang masih menunjukkan tekanan harga berlanjut.
2. Ketidakpastian Suku Bunga The Fed: Antony Kusuma menegaskan bahwa kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) memiliki imbas langsung terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selama arah kebijakan suku bunga masih belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk.
3. Likuiditas Pasar Menipis: Likuiditas pasar yang menipis menjadi pemicu utama volatilitas. Menurut laporan, thin liquidity (likuiditas menipis) berarti perintah beli atau jual besar dapat menggerakkan harga secara signifikan, memicu lonjakan pergerakan harga yang lebih besar.
4. Aliran Modal Institusional: Pemegang jangka panjang (long-term holders) dilaporkan melepas sekitar 815.000 BTC dalam satu bulan terakhir, memberikan tekanan jual yang signifikan pada pasar spot.
5. Fokus Beralih ke Regulasi Kripto: Dengan aktifnya kembali SEC dan CFTC, perhatian pasar beralih ke agenda regulasi, termasuk potensi kelanjutan pembahasan ETF kripto dan aturan stablecoin. Walaupun ini sentimen positif jangka panjang, lambatnya kejelasan implementasi regulasi menciptakan ketidakpastian jangka pendek.
Prospek dan Saran Indodax
Antony Kusuma menilai, potensi penurunan suku bunga The Fed pada Desember 2025 mendatang bisa menjadi titik balik penting yang membuka ruang pemulihan harga. Ia menegaskan bahwa volatilitas saat ini adalah bagian dari mekanisme pasar dan tidak perlu disikapi secara berlebihan.
“Seluruh investor bisa tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko. Koreksi semacam ini adalah bagian dari mekanisme pasar, dan setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” tambahnya.
Dalam jangka panjang, kejelasan regulasi yang lebih terarah dari SEC dan CFTC berpotensi menjadi faktor pendukung bagi aset kripto. Namun untuk jangka pendek, tekanan makroekonomi global masih menjadi beban bagi Bitcoin setelah reli yang kuat di awal tahun, yang sempat mencapai rekor tertinggi baru di kisaran $126.272 pada Oktober 2025.






